Buruan Sae Jadi Model Ketahanan Pangan Berbasis RW di Bandung
BANDUNG, ReaksiNasional.com – Program Buruan Sae sebagai upaya ketahanan pangan berbasis lingkungan terus berkembang di Kota Bandung. Salah satu yang menjadi percontohan berada di RW 09 Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay, yang bahkan menarik perhatian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan untuk meninjau langsung pelaksanaannya.
Ketua RW 09 Babakan Ciparay, Agus Tantan, menjelaskan bahwa Buruan Sae di wilayahnya mengusung konsep integrasi antara pertanian tradisional dan teknologi modern. Sistem tanam memanfaatkan lahan tanah konvensional di bagian bawah dan hidroponik di bagian atas.
“Di bawah kita pakai tanah tradisional, di atasnya ada hidroponik. Produksinya sudah rutin, sudah ada member yang mengambil, jadi sudah berputar dan menghasilkan,” ujar Agus, Selasa (20/1/2026).
Hasil panen Buruan Sae RW 09 tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial. Sebagian hasil produksi disalurkan untuk membantu warga yang membutuhkan, khususnya dalam upaya pencegahan stunting di lingkungan setempat.
“Sebagian hasil Buruan Sae kita subsidi untuk warga. Harapannya ke depan persoalan stunting bisa kita atasi sendiri di RW 09,” katanya.
Penguatan ketahanan pangan tersebut juga didukung dengan pengembangan sektor lain, seperti perikanan, peternakan, serta pengolahan sampah organik melalui magotisasi atau budidaya maggot. Meski dihadapkan pada keterbatasan lahan, RW 09 justru mendorong inovasi dengan memanfaatkan ruang-ruang alternatif.
“Maggotisasi sudah mulai, masih tahap percobaan sekitar lima baki. Karena lahan terbatas, kita manfaatkan rooftop yang ada di wilayah RW 09,” jelas Agus.
Ke depan, RW 09 merencanakan pengembangan magotisasi dan penghijauan, termasuk budidaya cabai rawit yang terintegrasi dengan perikanan ikan hias dan ikan konsumsi di beberapa titik wilayah.
“Semua nanti akan sinkron dalam satu ekosistem Buruan Sae Barokatumaninah RW 09,” ungkapnya.
Buruan Sae RW 09 sendiri berlokasi di rumah seksi lingkungan hidup dengan memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif. Lahan tersebut sebelumnya dipenuhi pepohonan liar sebelum dialihfungsikan menjadi area tanam sayuran dan tanaman toga.
“Awalnya seperti hutan, banyak pohon besar. Kita alihfungsikan menjadi tanaman yang lebih produktif, terutama sayuran dan tanaman toga,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memberikan arahan terkait peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan warga Kelurahan Babakan Ciparay. Selain mendukung pengembangan Buruan Sae sebagai pusat ketahanan pangan berbasis RW, ia juga menyoroti persoalan rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang harus segera ditangani.
Lurah Babakan Ciparay, Tonny Sukmana, menyampaikan bahwa wali kota meminta agar perbaikan Rutilahu segera dituntaskan tanpa penundaan. Selain itu, Buruan Sae yang sudah berjalan diminta menjadi contoh untuk dikembangkan di seluruh RW.
“Arahan Pak Wali jelas, Rutilahu harus segera diperbaiki. Selain itu, Buruan Sae yang sudah berjalan diminta menjadi contoh dan dikembangkan di seluruh RW di Babakan Ciparay,” kata Tonny.
Saat ini, Kelurahan Babakan Ciparay telah memiliki tiga Buruan Sae aktif dari total sembilan RW. Enam RW lainnya ditargetkan segera menyusul agar setiap RW memiliki program Buruan Sae.
“Sekarang baru ada tiga. Artinya tinggal enam RW lagi yang harus kita dorong agar setiap RW punya Buruan Sae,” pungkasnya. (*)

Posting Komentar untuk "Buruan Sae Jadi Model Ketahanan Pangan Berbasis RW di Bandung"