Cara Mengatur Keuangan Gen Z: Stop Doom Spending, Mulai Investing
Gen Z hidup di era serba cepat: informasi deras, tekanan ekonomi tinggi, dan media sosial terus memamerkan gaya hidup “kelihatan sukses”. Di tengah ketidakpastian ini, muncul fenomena doom spending—belanja impulsif sebagai pelarian stres. Masalahnya, kebiasaan ini bikin uang cepat habis dan masa depan finansial terasa makin jauh.
Kabar baiknya, Gen Z bisa keluar dari lingkaran ini. Dengan sistem sederhana dan konsisten, kamu bisa stop doom spending dan mulai investing—tanpa harus menunggu gaji besar.
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau rasa “masa depan suram”. Contohnya:
Checkout barang diskon padahal tidak perlu
Jajan online saat capek atau overthinking
“Self-reward” terlalu sering tanpa batas
Belanja memang memberi rasa lega sesaat, tapi meninggalkan penyesalan jangka panjang.
Kenapa Doom Spending Banyak Terjadi di Gen Z?
Beberapa pemicunya:
Tekanan ekonomi & masa depan yang terasa tidak pasti
FOMO dari media sosial
Akses paylater & e-wallet yang memudahkan transaksi
Kurang literasi keuangan praktis sejak dini
Tanpa sistem, emosi mudah mengambil alih keputusan finansial.
Dampak Doom Spending terhadap Keuangan
Jika dibiarkan, doom spending bisa menyebabkan:
Tidak punya tabungan
Gaji habis sebelum akhir bulan
Ketergantungan paylater
Sulit memulai investasi
Intinya: uang habis, stres bertambah.
Cara Mengatur Keuangan Gen Z Secara Realistis
Bangun Kesadaran Finansial
Mulai dari hal paling dasar:
Bedakan kebutuhan vs keinginan
Sadari pemicu emosional belanja
Catat pengeluaran (pakai notes atau aplikasi)
Kesadaran adalah langkah pertama sebelum perubahan.
Gunakan Aturan Keuangan Sederhana
Tak perlu ribet. Pakai versi fleksibel:
50/30/20 (kebutuhan/keinginan/tabungan)
Atau 60/25/15 jika penghasilan terbatas
Yang penting: tabungan/investasi disisihkan di awal, bukan dari sisa.
Stop Doom Spending Tanpa Tersiksa
Berhenti bukan berarti menahan diri ekstrem. Coba cara ini:
Budget hiburan bulanan (boleh senang, tapi ada batas)
Delay 24 jam sebelum checkout
Unfollow akun pemicu impuls
Ganti pelarian stres: jalan kaki, journaling, olahraga ringan
Mulai Investing untuk Gen Z (Walau Uang Terbatas)
Investasi Bukan Cuma untuk Orang Kaya
Investing itu kebiasaan, bukan nominal. Mulai kecil tapi rutin jauh lebih efektif daripada menunggu “nanti kalau gaji naik”.
Instrumen Investasi yang Cocok untuk Gen Z
Reksa dana: cocok pemula, dikelola profesional
Saham blue chip: untuk jangka panjang (belajar bertahap)
Emas digital: stabil dan mudah dicairkan
Pilih sesuai profil risiko dan tujuan.
Nominal Kecil Tapi Konsisten
Mulai dari:
Rp10.000 – Rp100.000 per minggu/bulan
Aktifkan auto-debit agar konsisten
Konsistensi mengalahkan segalanya.
Contoh Simulasi Keuangan Gen Z
Misal penghasilan Rp3.000.000/bulan:
Kebutuhan (60%) → Rp1.800.000
Keinginan (25%) → Rp750.000
Tabungan & investasi (15%) → Rp450.000
Dalam setahun, potensi tabungan/investasi Rp5.400.000—awal yang solid.
Kesalahan Umum Gen Z dalam Mengatur Keuangan
Terlalu banyak cicilan kecil
Investasi ikut-ikutan tanpa riset
Tidak punya dana darurat
Menganggap “masih muda, nanti saja”
Padahal waktu adalah aset terbesar Gen Z.
FAQ – Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah Gen Z wajib investasi sejak muda?
Tidak wajib, tapi sangat menguntungkan karena waktu memberi efek compounding.
Lebih baik menabung atau investasi dulu?
Prioritaskan dana darurat, lalu lanjutkan investasi.
Bagaimana cara stop doom spending secara bertahap?
Mulai dari membatasi, bukan melarang total. Bangun kebiasaan pengganti yang lebih sehat.
Kesimpulan
Doom spending bukan solusi stres—hanya menunda masalah. Investing adalah bentuk self-care jangka panjang. Gen Z punya keunggulan besar: waktu. Dengan sistem sederhana, disiplin kecil, dan konsistensi, kamu bisa membangun masa depan finansial yang jauh lebih aman.
Posting Komentar untuk "Cara Mengatur Keuangan Gen Z: Stop Doom Spending, Mulai Investing"
Posting Komentar