Kemenperin Dorong IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Lewat Model Bisnis Berkelanjutan Berbasis Budaya


 JAKARTA — Kementerian Perindustrian terus memperkuat transformasi industri kecil dan menengah (IKM) agar semakin berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar pada nilai budaya lokal. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui kolaborasi antara Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar dalam pengembangan Sustainability and Culture Business Model Canvas (SC-BMC).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa transformasi model bisnis IKM menjadi agenda penting dalam mendukung Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi tersebut menempatkan keberlanjutan, inovasi, serta penguatan identitas lokal sebagai fondasi pembangunan industri nasional.

Menurutnya, IKM fesyen dan kriya memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan berbasis budaya. Melalui pendekatan model bisnis yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya, pelaku IKM tidak hanya mampu meningkatkan daya saing, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan dan berkarakter Indonesia.

Sebagai wujud konkret kolaborasi tersebut, BPIFK dan UNMAS Denpasar telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus melaksanakan riset bersama terkait penerapan SC-BMC. Model ini merupakan pengembangan dari Business Model Canvas (BMC) klasik dengan penambahan dimensi keberlanjutan dan nilai budaya dalam perancangan bisnis.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menjelaskan bahwa SC-BMC tidak hanya berfokus pada profitabilitas, tetapi juga mendorong dampak positif bagi manusia, lingkungan, serta pelestarian nilai lokal.

Ia mengungkapkan, uji coba penerapan SC-BMC berbasis budaya lokal telah dilakukan terhadap 15 IKM di Bali dalam kondisi usaha nyata. Hasilnya menunjukkan bahwa model tersebut membantu pelaku IKM memahami potensi dan tantangan bisnis secara lebih menyeluruh, sekaligus mendorong praktik usaha yang seimbang antara aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya.

Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa SC-BMC mampu mengintegrasikan empat dimensi utama secara terpadu melalui 15 blok model bisnis. Model ini tidak hanya berfungsi sebagai alat perencanaan, tetapi juga menjadi pendekatan transformasi IKM menuju usaha yang berdaya saing, berkelanjutan, dan memiliki legitimasi sosial serta budaya.

Reni menambahkan, hasil riset bersama BPIFK dan UNMAS Denpasar tersebut menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan implementasi SBIN. Model SC-BMC diharapkan dapat diadopsi secara luas oleh pelaku IKM fesyen dan kriya sebagai alat pengembangan usaha yang adaptif terhadap tantangan global.

Dari sisi pasar, pendekatan SC-BMC dinilai relevan dalam merespons tren nasional dan global seperti conscious consumer, keberlanjutan, digitalisasi, serta meningkatnya minat terhadap produk berbasis budaya lokal. Diferensiasi berbasis identitas budaya dinilai memberikan nilai tambah yang sulit ditiru produk manufaktur massal, terutama untuk segmen premium, pariwisata budaya, dan pasar ekspor.

Sementara itu, Kepala BPIFK Dickie Sulistya menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci dalam mendorong transformasi industri. Menurutnya, kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan MoU, melainkan diwujudkan melalui pendampingan, inovasi, dan penerapan model bisnis yang aplikatif bagi IKM fesyen dan kriya.

Ke depan, kerja sama BPIFK dan UNMAS Denpasar diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar fesyen dan kriya nasional maupun internasional melalui pendekatan bisnis yang berkelanjutan, inklusif, serta berakar kuat pada budaya lokal.



Posting Komentar untuk "Kemenperin Dorong IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Lewat Model Bisnis Berkelanjutan Berbasis Budaya"

Pasang Iklan Di Sini
Cuma 5k / bulan
📞 0851-5549-9499